Pada tahun 1908, yang mana Belanda masih berkuasa di Indonesia dan sedang gencar membangun pendidikan bagi anak-anak pribumi dan juga untuk anak-anak Belanda. pada masa ini pemerintahan Belanda tidak ikut campur terkait urusan pendidikan orang Cina dan tidak berkenan memberikan bantuan finansial walaupun masyarakat Cina di Indonesia merupakan pembayar pajak yang sangat baik. Adanya peristiwa kemenangan Jepang atas Rusia telah memberikan dampak yang besar bagi negara-negara di Asia yang mana membangunkan Asia dan Gerakan Cina Muda. Timbulnya kesatuan nasional dan kebesaran akan negaranya sendiri memenuhi pikiran para orang Cina yang tinggal di Indonesia. Adanya hal tersebut pula juga menimbulkan persatuan masyarakat Cina di berbagai negara khususnya di Indonesia berdiri perkumpulan Cina, Tung Hoa Hwee Kuan (THHK) yang pada awal mulanya dimulai dari mendirikan gedung pertemuan untuk menyebarkan kebiasaan dan moral Cina berdasarkan ajaran Kong Fu Tse. Mereka juga menyadari bahwasanya yang dibutuhkan oleh perkumpulan untuk rakyat Cina di Indonesia adalah semangat pendidikan, sehingga adanya perkumpulan ini mulai mendirikan sekolah sendiri tanpa ada campur tangan Belanda.
Dalam penggunaan kurikulum sekolah Cina ini pada awalnya masih memadukan kurikulum Belanda, namun hal itu tidak disukai oleh Belanda karena mereka tidak mau bahasanya digunakan oleh orang yang bukan Belanda. Perkumpulan Cina pada saat itu menyadari betapa sulitnya membangun pendidikan di bawah pengawasan Belanda dan juga banyak yang Sukar untuk masuk ke ELS, oleh karena itu orang Cina harus menggaji dan memperkerjakan guru Belanda dengan biaya yang tinggi, adanya kebutuhan akan hal tersebut pihak Cina meminta bantuan pemerintah Belanda saat itu. Karena tolakan dari pihak Belanda pihak Cina di Indonesia meminta bantuan ke negara asalnya untuk mendatangkan guru bahasa Inggris agar dapat menggantikan guru bahasa Belanda. Dengan adanya tindakan tersebut maka bahasa Belanda dihapuskan dalam kurikulum sekolah Cina. Tindakan ini didasarkan oleh kesadaran rakyat Cina bahwa di luar Indonesia seperti Semenanjung Malaya, Filipina, Hong Kong, India bahkan Jepang hanya sangat terbuka bagi mereka yang dapat menguasai bahasa Inggris. Sifat orang Inggris pula yang dengan senang hati menyebarluaskan bahasa mereka. Lama kelamaan banyak orang Cina yang menyekolahkan anaknya ke Raffles Institute di Singapura.
Selain itu Kaisar Cina yang menunjukkan banyak perhatian kepada perkembangan pendidikan rakyat Cina di daerah jajahan Belanda. Pemerintah Cina menyadari bahwa dengan dibantunya sistem pendidikan dapat mencapai hubungan yang kuat antara orang Cina Perantauan dengan yang di tanah leluhurnya. Akhirnya sekolah-sekolah THHK menjadi suatu bagian sistem pendidikan negara Cina. Pada tahun 1906 telah dibangun 76 sekolah dasar dengan 6.393 murid dan sebuah sekolah menengah, semua hal ini berada dalam pantauan kementerian pendidikan di Peking yang memperoleh cap resmi untuk digunakan dalam semua korespondensi. Naungan serta pantauan dari pemerintah Cina langsung dapat pula terintegrasi dengan kegiatan dalam negara asalnya yaitu pemuda-pemuda Cina diajak menjalani latihan militer dan sipil di Tiongkok. Bahkan di daerah Peking direncanakan akan dibangun sebuah universitas untuk pelajar-pelajar dari Indonesia.
Dengan adanya kebangkitan Nasional bahasa Cina menjadi bahasa pokok dan semangat persatuan bagi sekolah Cina di Indonesia. Penerapan pendidikan secara Nasionalistis di dalam sekolah THHK ini memfokuskan ajaran bahasa Cina dan bahasa Inggris, adanya hal ini seperti di awal penggunaan bahasa Belanda disampingkan. Adanya hal ini menjadi ancaman terhadap supremasi kultural dan mungkin dalam politik Belanda. Pada saat itu masyarakat Cina memandang rendah bahasa dan juga kebudayaan orang Belanda, bahkan adanya timbul sikap anti Belanda. Adanya respon yang kurang mengenakan dari masyarakat Cina tersebut, keadaan tersebut menyebabkan kesadaran pemerintah Belanda bahwa mereka harus meninggalkan politik non-intervensi dalam pendidikan anak-anak Cina lalu memutuskan untuk membuka adanya sekolah Cina buatan Belanda yaitu Hollands Chinese School (HCS) pada tahun 1908. Tujuan didirikannya sekolah ini adalah untuk dengan penggunaan bahasa Belanda dapat dihilangkannya pengaruh mempelajari bahasa dan kebudayaan Cina. Kurikulum HCS akan sama dengan ELS yaitu agar dengan murni memberikan pendidikan khas Belanda terhadap anak-anak Cina.
Terkait kurikulum yang diterapkan HCS mempunyai dasar yang sama dengan ELS, bahasa Perancis yang mana diberikan pada sore hari seperti dengan pengajaran bahasa Inggris yang sebenarnya tidak diperbolehkan diberikan di ELS, hal tersebut boleh diajarkan karena kepentingan terhadap percakapan pada saat melakukan perdagangan. Kebanyakan dai sekolah HCS ini memiliki kelas persiapan untuk anak-anak berusia 5 tahun agar lebih mudah mengikuti pelajaran di kelas satu. Sayangnya fasilitas seperti ini tidak pernah diberikan terhadap pendidikan anak-anak Indonesia. Pemerintah Belanda selaku pelaksana merasakan bahwa penerapan bahasa Cina dalam HCS ini merupakan masalah. Walaupun pada dasarnya bahasa Cina dibutuhkan oleh murid-murid Cina, namun pemerintah Belanda menolak adanya saran tersebut karena mereka sadar tidak mau membiayai sekolah cuma-cuma untuk tujuan nasionalistis. Permasalahan kebutuhan penggunaan bahasa Cina dalam HCS masih menjadi masalah yang sering muncul saat itu. Sayangnya dalam HCS selain pelarangan penggunaan bahasa Cina, pelajaran bahasa Melayu juga tidak berhasil dijalankan karena dipandang sebagai bahasa yang pasaran dan bahasa yang sering digunakan oleh pembantu.
HCS didirikan dengan tujuan untuk menghadirkan pendidikan Barat yang mana sekolah ini lebih sering dikunjungi oleh orang Cina-Indo yang lahir di Indonesia, hal ini mudah dipahami karena banyak dari mereka yang tidak memahami bahasa Cina dan mereka tidak tertarik dengan sekolah Cina nasional. Pendirian HCS yang didirikan untuk mengimbangi sekolah THHK tidak berhasil sepenuhnya karena orang Cina toktok terus mengirim anaknya berpendidikan di sekolah Cina asli. Namun pada tahun 1908 kesempatan belajar anak Cina lebih baik dibandingkan dengan anak Indonesia. Jumlah sekolah meningkat dari 4 bangunan pada 1908 menjadi 29 bangunan pada 1915 dan menjadi 34 bangunan pada tahun 1920, serta jumlah murid yang awalnya 821 menjadi 5.323 sampai 7.785 orang. Kesempatan belajar yang jadi lebih baik ini memberikan kemungkinan dominasi Cina bukan hanya bidang komersial melainkan juga bidang intelektual dan dibantu dengan kondisi finansial yang menguntungkan dan banyak keturunan Cina ini masuk ke Universitas dibandingkan anak Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar