Sejarah perkembangan sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dimulai pada tahun 1903 yang mana pada saat itu terdapat dua kursus MULO yang dibuka di Bandung dan Yogyakarta, yang mana adanya MULO ini terintegrasi dengan adanya sekolah Eropa atau ELS yang mana kursus ini menyajikan pelajaran lanjutan bagi lulusan ELS. Kursus MULO di Bandung diawali dengan 14 murid, di Yogyakarta hanya dengan 6 orang.
Adanya pelaksanaan kursus MULO ini adalah sebagai sekolah rendah dengan program yang diperluas, serta bukanlah berstatus sebagai sekolah menengah. Guru yang dapat mengajar di sana juga harus memiliki ijazah berupa HA (Hoofdacte /Kepala Sekolah) atau harus memenuhi syarat sebagai diploma pada mata pelajaran tertentu. Guru ini ditugaskan untuk mengajar beberapa mata pelajaran dan bukan hanya satu mata pelajaran saja seperti yang diterapkan dalam sekolah menengah. Adanya MULO juga sebagai sarana pendidikan lanjutan ELS dan memberikan pembelajaran terminal. Dalam pendirian MULO ini disambut dengan bahagia oleh orang Indo-Belanda dan mereka yang tidak sanggup melanjutkan sekolah anaknya ke Hogere Burgerschool (HBS) yang memiliki biaya pendidikan mahal dan harus mempersiapkan anak mereka untuk dapat bekerja di kantor pemerintahan.
Sekolah MULO ini juga sebagai sarana untuk mencegah banyaknya siswa yang drop-out di HBS yang kebanyakan siswa-siswa ini adalah yang memiliki intelektual tinggi namun tidak memiliki biaya pendidikan atau kurang mampu. Pada saat itu juga terdapat anggapan bahwa sebagian besar murid yang ada di HBS tidak pada tempatnya, semisal dari 147 murid yang masuk HBS pada tahun 1907 hanya 24 orang yang dapat mencapai kelas 5. Hal ini tidak berarti bahwa pendirian MULO didirikan untuk murid-murid yang rendah kemampuan intelektualnya, justru sebaliknya.
Pada masa penerapannya tentu MULO memiliki kelemahan yaitu karena programnya terlampau luas sehingga timbul saran untuk memperpanjangnya menjadi 3 tahun. kelemahan lainnya yaitu ketidakjelasan efek sipil diploma MULO secara resmi. Pada tahun 1910 setelah MULO menjadi tiga tahun masa pendidikan dinyatakan bahwa ijazah MULO disamakan dengan keterangan naik dari kelas IV ke kelas V di HBS, adanya kebijakan tersebut mendapatkan kritik tajam dari pihak HBS yaitu menyatakan bahwa MULO dalam segala hal sangat kurang dari HBS. Dengan adanya teguran seperti itu MULO mengubah kebijakannya yaitu menyamakan ijazah MULO sama dengan keterangan naik kelas dari kelas III ke kelas IV HBS.
Perkembangan MULO ini terus berlanjut yaitu pada tahun 1914 kursus MULO diubah menjadi MULO dan sekolah kelas satu juga diubah menjadi Hollands Inlandse School (HIS). Dengan adanya perubahan maka adanya HIS dan MULO saling berkaitan. Semisal bahasa Perancis yang diajarkan pada sekolah kelas satu dijadikan fakultatif dan pelajaran bahasa Belanda menjadi intensif. Walaupun memiliki hubungan yang masih kurang lancar antara HIS dan MULO maka disarankan menambah kelas VIII pada HIS atau kelas persiapan pada MULO dan ini menjadi langkah yang praktis. MULO sendiri merupakan sekolah pertama yang tidak mengikuti pola pendidikan Belanda, namun tetap berorientasi barat dan tidak mencari penyesuaian dengan keadaan pendidikan di Indonesia. Pada saat itu pemerintah Belanda menginginkan MULO dikhususkan untuk warga Belanda, tetapi diputuskan bahwa MULO sebagai lembaga pendidikan bagi semua bangsa yang ada.
Adapun dalam kurikulumnya MULO menyajikan program yang terdiri dari empat bahasa yaitu bahasa Belanda, Prancis, Inggris dan Jerman. setengah dari waktu digunakan untuk pelajaran bahasa, sepertiga untuk matematika dan ilmu pengetahuan alam dan seperenam untuk ilmu pengetahuan sosial. bagi lulusan dari HIS bahasa Prancis tidak diwajibkan akan tetapi diajarkan pada sore hari. Dengan mengenal bahasa-bahasa daerah, ada kemungkinan lulusan dari MULO ini akan mengenal 5 sampai dengan 6 bahasa dan pada tahun 1919 baru dimasukkan pelajaran bahasa Melayu sebagai elektif. Walaupun MULO dipandang sebagai pendidikan terminal, dan tidak ada diberikan pelajaran vokasional seperti tata buku, mengetik, stenografi dan lainnya. Penerapan sekolah MULO ini tidak terikat dengan prinsip konkordansi, namun program MULO ini tak banyak bedanya dengan program tiga tahun pertama dalam sekolah HBS. Fungsi utama MULO yang terpenting adalah memberikan dasar yang lebih baik bagi pendidikan kejuruan dan bagi lanjutan pelajaran. Namun terdapat pihak tertentu yang keberatan tidak mau memberikan status sekolah lanjutan kepada MULO ini, serta hubungan MULO dan HBS ini tidak kunjung tercapai dengan baik. Akan tetapi sebagai solusi mengatasi masalah ini akan didirikannya sekolah Algemene Middelbare School (AMS).
Lanjutkan Dee tentang AMS nyaaa!!! 🔥✍️
BalasHapus