Kamis, 02 Januari 2025

MENGENAL SEKOLAH INDO-BELANDA EUROPESE LAGERE SCHOOL (ELS)

Pada tahun 1816 setelah Hindia Belanda diterima kembali oleh Gubernur Jenderal dari kekuasaan Inggris, pendidikan menjadi faktor utama yang dikerjakan oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu, namun persoalan tersebut hanya difokuskan kepada anak-anak berdarah Belanda asli. Memasuki tahun 1850 pembelajaran kelas rendah diterapkan di Nusantara untuk anak Belanda, juga untuk anak Indonesia pada saat itu yang tidak bisa bahasa Belanda. Kebanyakan warga Belanda ini khususnya anak-anak tinggal di tengah-tengah kampung bersama warga pribumi yang biasanya bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah dan juga banyak yang tidak memahami bahasa Melayu. Kehidupan mereka bisa dibilang tidak lebih baik keadaannya daripada penduduk biasa. Maka awal penyelenggaraan sekolah ini adalah untuk anak-anak Belanda Miskin. Adapun penyelenggaraan sekolah Belanda ini berdasarkan pada asas yang sama dengan sekolah-sekolah di negeri aslinya yaitu Belanda, mengikuti aturan yang sama, serta mereka diajarkan oleh seorang pengajar dari negeri Belanda.

Dalam tujuan awalnya penyelenggaraan sekolah Belanda atau Europese Lagere School (ELS) ini memiliki rancangan dan peraturan yang sama dengan sekolah di Belanda, walaupun terdapat perbedaan terkait murid yang bersekolah dan awal permulaan sekolah tersebut. Adanya penyelenggaraan sekolah menggunakan prinsip yang bernama Konkordasi yang merupakan prinsip yang dominan selama dijalankannya sekolah Belanda ini. Adanya penerapan prinsip ini memiliki tujuan awal yaitu untuk memperkuat dan mengembangkan kesadaran nasional di kalangan keturunan Belanda yang mana lebih mendominasi keturunan Indo-Belanda dan juga untuk anak-anak yang lahir dari hubungan yang tidak legal. Adanya prinsip konkordasi ini juga adalah untuk para warga Belanda yang ingin melakukan perjalanan liburan ke tanah asalnya maka diperlukan adanya kesamaan sekolah agar anak-anak mereka dapat mengikuti kegiatan sekolah di mana mereka berada tanpa adanya kendala kesulitan. Jadi sekolah-sekolah di Belanda ini menjadi standar bagi sekolah kelas rendah maupun menengah yang ada di Indonesia. Namun adanya penyelenggaraan sekolah ELS ini dimanfaatkan dengan baik oleh warga Indonesia karena menjadikan tahapan sekolah ini sebagai faktor penting dalam perkembangan pendidikan anak-anak Indonesia.

Selanjutnya masuk ke fase awal di bangunnya sekolah Belanda ini yaitu ELS untuk pertama kali didirikan pada tahun 1817 di Batavia yang sekarang menjadi bagian dalam wilayah Jakarta. Adanya peraturan dalam pembangunan sekolah yang serupa dengan ELS di tiap tempat asal muridnya harus mencapai 20 di pulau jawa dan 15 di luar pulau jawa. Memasuki tahun 1920 ELS telah meningkat menjadi 164 bangunan. Memasuki pertengahan abad ke-19 para warga Belanda telah mampu menyekolahkan anaknya dan menjadi sekolah Belanda ini sebagai sarana pendidikan universal bagi penduduk berbangsa Belanda. Hal ini terjadi karena dukungan dan peraturan dari pemerintahan saat itu yang mewajibkan Ijazah ELS sebagai syarat bekerja dalam pemerintahan dan mendatangkan guru secukupnya dari Belanda. 

Sekolah ini yang pada awalnya dibangun untuk anak-anak Belanda yang miskin dan serta bermutu rendah karena kualitas guru yang kurang baik dan latar belakang murid yang bervariasi serta kurang baik, mengalami perubahan karena banyak orang tua Belanda dengan ekonomi yang tinggi tidak mau anaknya bersekolah berbarengan dengan anak-anak golongan rendah dan mereka lebih suka mengirim anaknya untuk berpendidikan di negeri asalnya yaitu Belanda. Dengan adanya permasalahan tersebut maka dibangunlah sekolah untuk golongan tinggi atau golongan si kaya. Terwujudlah dengan dibangunnya pada tahun 1833 yaitu Eerste Europese Lagere School (ELS Pertama) yang mana memiliki biaya pendidikan yang sangat tinggi. Tentunya dengan iuran pendidikan yang tinggi sebanding dengan tingginya mutu pendidikan yang didapatkan serta juga kualitas pendidikan yang baik. Sekolah ini tidak menerima anak-anak Indonesia bahkan keturunan Ningrat sekalipun, maka bagi mereka yang tidak sanggup dengan sekolah ini maka mereka harus bersekolah di ELS yang biasa-biasa saja.

Dalam hal penerimaan murid dalam sekolah Belanda atau ELS ini memiliki hal yang tegas terkait penerimaan muridnya, yang boleh memasuki sekolah ini yaitu hanya keturunan Belanda atau Eropa, dan mereka yang secara legal disamakan dengan orang Eropa dapat masuk ke sekolah ini asal salah seorang dalam orang tuanya adalah orang Eropa. Semisal terdapat seorang ibu yang memiliki darah Barat namun anaknya tidak sah sebagai orang barat hal ini masih bisa diterima dalam sekolah ELS ini. Bahkan seorang dari benua hitam dan beragama Kristen masih dapat diterima di sekolah ELS ini. Lalu terdapat kelompok lain yang mudah memasuki sekolah ini ialah anak-anak serdadu dari kelompok Manado, Ambon, Ternate, dan Tidore asal mereka beragama Kristen dan berada di luar daerahnya. Bahkan anak serdadu golongan rendah dapat terbebas dari uang pendidikan. Faktor Loyalitas kepada pemerintah Belanda menjadi faktor yang menentukan pendidikan seorang anak saat itu. Europese Lagere School (ELS) yang memiliki tujuan awal mendirikan sekolah bagi orang Eropa dan mereka yang disamakan statusnya kemudian dirumuskan sebagai sekolah untuk pendidikan Eropa yang membuka jalan bagi anak Indonesia untuk memasukinya. Anak-anak bukan Eropa tidak ditolak, selama jumlah anak yang bukan Belanda sedikit, tidak ada keberatan menerima anak-anak Indonesia untuk dapat sekolah di ELS. Bahkan dianggap sangat penting dari segi politik dalam menerima anak-anak aristokrasi di ELS untuk mempererat hubungan di antara kedua bangsa.

Lantas bagaimana dengan fasilitas yang disajikan dalam sekolah Belanda ELS ini, berdasarkan laporan inspeksi pada tahun 1891 dan seterusnya, bangunan ELS ini selalu dalam kondisi yang baik dan memadai. sampai pada tahun 1912 pekarangan sekolah dibersihkan oleh petugas pesuruh dan yang uniknya pembersihan sekolah ini kadang dilakukan oleh narapidana. Sedangkan untuk fasilitas seperti buku dan alat pendukung kegiatan pembelajaran lainnya selalu lengkap, ini bisa diartikan bahwa pemerintah pada saat ini memberikan pelayanan berupa fasilitas dengan keadaan yang sangat baik bagi keturunan Belanda saat itu dan berbanding terbalik dengan fasilitas pendidikan yang diberikan untuk anak-anak Indonesia. ELS ini juga dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan di setiap sekolahnya dan difasilitasi sejumlah 3600 buku di setiap sekolahnya. Sedangkan dalam pembangunannya sekolah ini menggunakan batu bata dan genting sebagai atapnya, pembangunan sekolah ini juga dibangun dilokasi yang tenang dan tanpa polusi debu, serta jarak yang jauh dari kebisingan jalan raya. Pekarangan sekolah ini pun di isi dengan tanaman yang besar dan rindang. Bahkan di setiap sekolah ELS ini mempunyai bangunan Gimnastik tersendiri untuk kegiatan jasmani dan antisipasi ketika musim hujan tiba.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGENAL KURSUS SETARA SEKOLAH MENENGAH, MEER UITGEBREID LAGER ONDERWIJS (MULO)

Sejarah perkembangan sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dimulai pada tahun 1903 yang mana pada saat itu terdapat dua kursus MUL...